2.
Ada kalanya ketika kau menjadi pemimpin,
kau juga harus ikut memberi subsidi pada rakyatmu dari kantong pribadi
Pada suatu hari, sekitar pukul 10.00 WIB seorang pemuda berkaos putih dibalut jaket hitam lusuh penuh lambang-lambang kegagahan berangkat menuju terminal untuk menjemput seorang wanita bernama Sore, yang tak lain adalah sekretaris dari seorang Jati.
Memang beberapa hari ini mereka sering bertemu lantaran ada sebuah kegiatan yang akan mereka eksekusi, dimulai dari menyiapkan proposal tempat dan sebagainya. Hingga pada pukul 11 kurang 5 menit mereka sampai disebuah kampus berlatar pohon-pohon tempat di adakannya rapat konsolidasi terkait persiapan acara seminar bulan depan.
Tak butuh waktu lama beberapa mahasiswa yang sudah berkumpul langsung memulai rapat kala itu saat matahari tepat di atas kepala dengan pembagian job proposal yang hari itu mau tidak mau harus dituntaskan.
Mulai dari Jati yang sibuk membuat logo kegiatan yang baru, Sore yang membenahi isi proposal dibantu senior-senior yang memang semuanya masih dalam tahap belajar dalam berproses. Namun tak mengurangi semangat dari kawan-kawan untuk ikut mencerdaskan anak bangsa melalui berbagai aspek kehidupan dengan salah satunya melalui seminar kemahasiswaa.
Jam terus berlalu hingga satu persatu dari mereka pergi meninggalkan tempat rapat untuk kembali ke rumah dengan berbagai alasan yang dapat disimpulkan mereka sudah mulai jenuh dengan kerja estafet yang terus digempur tak kenal waktu. Dan akhirnya menyisakan 2 orang wanita berpadu dengan 3 orang pria yang salah satunya adalah Jati.
Sore yang kala itu sudah lelah menahan lapar, akhirnya menyuarakan pendapatnya untuk mencari makan dan membujuk para lelaki untuk mensubsidi makan kala itu. Dengan adu argumen yang terus berlalu hingga menimbulkan gaduh atas rengekan para wanita yang mencari subsidi logistik, akhirnya salah seorang dari pria itu mengeluarkan selembar kertas untuk memberi semangat kawan-kawannya dan berangkatlah dua wanita itu mencari isi perut.
Jati yang kala itu sedang menunaikan puasa, sembari menunggu waktu berbuka dan kawan-kawannya kembali membawa bungkus nasi, Ia memainkan permainan Hago dalam handphonnya yang memang kala itu sedang naik daun dengan berbagai permainan online salah satunya adalah permainan adu kambing.
Belum tuntas Ia selesaikan permainan itu muncul dua sosok wanita sambil membawa beberapa bungkus yang isinya adalah nasi dan lalapan yang dibungkus terpisah dengan wajah semangat mereka turun dari motor menuju sekumpulan pria tadi.
Tepat pukul 17.37 mereka makan bersama untuk menunggu waktu berbuka demi menghormati Jati yang kala itu memang sedang berpuasa Tarwiyah.
Setelah selesai makan dan sholat maghrib Jati, Sore dan kawan-kawan lainnya memutuskan hengkang dan berpisah untuk berangkat pulang ke rumah masing-masing kecuali tiga orang yaitu Jati dan Sore yang berencana ke tempat tukang stempel untuk memesan stempel kegiatan serta seorang senior yang memutuskan merebahkan badannya di Base Camp tempat mereka menuangkan ide-ide sporadis.
Setelah Jati dan Sore selesai menuntaskan hajatnya ditukang stempel, beberapa saat mereka menunggu bis yang tak kunjung lewat hingga akhirnya Jati memutuskan untuk mengantar Sore kembali ke rumah yang berjarak sekitar 1 jam dari pusat kota.
Dalam perjalanan ke kecamatan K mereka berdua menceritakan histori sejarah dari masing-masing dan beberapa kali Sore menuangkan cerita tentang sejarah kerajaan Malowopati yang dulu pernah melegenda dikabupatennya tersebut.
Setelah menembus jalan yang berliku-liku akhirnya sampailah di suatu desa dimana Sore tinggal, namun Sore tak mau diantar hingga depan rumah yang sebelumnya Ia telah menghubungi saudaranya untuk menjemput dan setelah Sore turun di kiri jalan hingga bertemu saudaranya Jati putar balik kembali ke kota untuk melanjutkan perjalanan malam itu yang harus Ia tuntaskan mulai dari ngopi dan mengantar seorang wanita kembali ke rumah dengan selamat.
No comments:
Post a Comment