Sunday, August 26, 2018

2.
Ada kalanya ketika kau menjadi pemimpin,
kau juga harus ikut memberi subsidi pada rakyatmu dari kantong pribadi


Pada suatu hari, sekitar pukul 10.00 WIB seorang pemuda berkaos putih dibalut jaket hitam lusuh penuh lambang-lambang kegagahan berangkat menuju terminal untuk menjemput seorang wanita bernama Sore, yang tak lain adalah sekretaris dari seorang Jati.
Memang beberapa hari ini mereka sering bertemu lantaran ada sebuah kegiatan yang akan mereka eksekusi, dimulai dari menyiapkan proposal tempat dan sebagainya. Hingga pada pukul 11 kurang 5 menit mereka sampai disebuah kampus berlatar pohon-pohon tempat di adakannya rapat konsolidasi terkait persiapan acara seminar bulan depan.
Tak butuh waktu lama beberapa mahasiswa yang sudah berkumpul langsung memulai rapat kala itu saat matahari tepat di atas kepala dengan pembagian job proposal yang hari itu mau tidak mau harus dituntaskan.
Mulai dari Jati yang sibuk membuat logo kegiatan yang baru, Sore yang membenahi isi proposal dibantu senior-senior yang memang semuanya masih dalam tahap belajar dalam berproses. Namun tak mengurangi semangat dari kawan-kawan untuk ikut mencerdaskan anak bangsa melalui berbagai aspek kehidupan dengan salah satunya melalui seminar kemahasiswaa.
Jam terus berlalu hingga satu persatu dari mereka pergi meninggalkan tempat rapat untuk kembali ke rumah dengan berbagai alasan yang dapat disimpulkan mereka sudah mulai jenuh dengan kerja estafet yang terus digempur tak kenal waktu. Dan akhirnya menyisakan 2 orang wanita berpadu dengan 3 orang pria yang salah satunya adalah Jati.
Sore yang kala itu sudah lelah menahan lapar, akhirnya menyuarakan pendapatnya untuk mencari makan dan membujuk para lelaki untuk mensubsidi makan kala itu. Dengan adu argumen yang terus berlalu hingga menimbulkan gaduh atas rengekan para wanita yang mencari subsidi logistik, akhirnya salah seorang dari pria itu mengeluarkan selembar kertas untuk memberi semangat kawan-kawannya dan berangkatlah dua wanita itu mencari isi perut.
Jati yang kala itu sedang menunaikan puasa, sembari menunggu waktu berbuka dan kawan-kawannya kembali membawa bungkus nasi, Ia memainkan permainan Hago dalam handphonnya yang memang kala itu sedang naik daun dengan berbagai permainan online salah satunya adalah permainan adu kambing.
Belum tuntas Ia selesaikan permainan itu muncul dua sosok wanita sambil membawa beberapa bungkus yang isinya adalah nasi dan lalapan yang dibungkus terpisah dengan wajah semangat mereka turun dari motor menuju sekumpulan pria tadi.
Tepat pukul 17.37 mereka makan bersama untuk menunggu waktu berbuka demi menghormati Jati yang kala itu memang sedang berpuasa Tarwiyah.
Setelah selesai makan dan sholat maghrib Jati, Sore dan kawan-kawan lainnya memutuskan hengkang dan berpisah untuk berangkat pulang ke rumah masing-masing kecuali tiga orang yaitu Jati dan Sore yang berencana ke tempat tukang stempel untuk memesan stempel kegiatan serta seorang senior yang memutuskan merebahkan badannya di Base Camp tempat mereka menuangkan ide-ide sporadis.
Setelah Jati dan Sore selesai menuntaskan hajatnya ditukang stempel, beberapa saat mereka menunggu bis yang tak kunjung lewat hingga akhirnya Jati memutuskan untuk mengantar Sore kembali ke rumah yang berjarak sekitar 1 jam dari pusat kota.
Dalam perjalanan ke kecamatan K mereka berdua menceritakan histori sejarah dari masing-masing dan beberapa kali Sore menuangkan cerita tentang sejarah kerajaan Malowopati yang dulu pernah melegenda dikabupatennya tersebut.
Setelah menembus jalan yang berliku-liku akhirnya sampailah di suatu desa dimana Sore tinggal, namun Sore tak mau diantar hingga depan rumah yang sebelumnya Ia telah menghubungi saudaranya untuk menjemput dan setelah Sore turun di kiri jalan hingga bertemu saudaranya Jati putar balik kembali ke kota untuk melanjutkan perjalanan malam itu yang harus Ia tuntaskan mulai dari ngopi dan mengantar seorang wanita kembali ke rumah dengan selamat.

Wednesday, August 1, 2018

1.
Perjalanan pulang adalah saat dimana kita mengatur
skema baru dalam kehidupan setelah perjalanan yang terlewati.

Matahari terus merangkak naik mengikuti alur yang sebagaimana dilaluinya setiap hari, seorang pemuda bernama Jati bangun dengan sesekali mengusap matanya sambil menengok jam yang menunjukkan pukul 09.30, yang berarti 45 menit lagi kereta yang akan membawanya berangkat pulang ke rumah akan segera meninggalkan kota yang sudah dua hari Ia obrak-abrik dengan sepedah tua keluaran tahun 80-an itu.
Dengan bergegas Ia mengambil handuk lalu ditaruh pundaknya dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di pojok kamar kos tersebut, selang beberapa menit ia keluar dengan air yang beberapa masih menetes di sela-sela rambutnya hingga beberapa jatuh tepat diatas mata Amin dan mengakibatkan kawannya bangun sambil melontarkan pertanyaan “Jam piro jik; kok wes adus”. “Wes awan cuk, keri sepur aku engko; ndang adus ayo golek sarapan karo wedang” lontar Jati.
Dalam perjalanan menuju stasiun mereka sempat menepi di warung Bu Indah yang lokasinya berada di bantaran kali untuk mengisi logistik demi perjalanan Jati yang aman dari serangan cacing-cacing dalam perut. Setelah mereka menghabiskan makan dan membersihkan mulut dengan tissu Jati berkata “rokok’an nek stasiun wae, wes mepet waktune iki”, dan dengan secepat kilat si Amin mengantar Jati sampai di stasiun melewati kendaraan yang saling berhimpitan dengan tujuan masing-masing.
Sekitar pukul 10.05 mereka berdua meletakkan tubuhnya di depan stasiun sembari Jati mengeluarkan kretek dari dalam saku untuk menunaikan ibadah wajib yang biasa dilakukan pecandu rokok ketika selesai makan, sambil berbincang ngalor-ngidul hingga pada pukul 10.13 kereta datang dengan tanda suara yang keluar dari speaker stasiun yang memberitahukan bahwa sebentar lagi kereta akan berangkat dengan tujuan akhir Bojonegoro, spontan Jati langsung menghisap dengan semaangat kreteknya dan berpamitan kepada Amin sambil berjabat dangan dan berkata “suwun wes mbok openi, gowoen ae rokok iki gawe konco dino iki” sembari senyum tipis mereka berpisah.
Dalam perjalanan pulang Jati mendapatkan tempat duduk nomor 17E dan memang sekitar tempat duduknya juga di isi penumpang dengan tujuan yang sama yaitu Bojonegoro. Dalam perjalanan pulang Ia sempat berbincang dengan seorang bapak tua berkaos putih dibalut jaket hitam yang setelah beberapa pembicaraan terlaksana Ia tau bahwa bapak itu mempunyai tujuan turun yang sama; namun tempat tinggalnya berada di sebelah utara tempat kelahirannya, namun berbeda kabupaten.
Hingga akhirnya pukul 13.30 kereta sampai di stasiun terakhir dan setelah perbincangan yang tak mengenakkan hati antara Jati dengan seorang wanita bernama Suma, ternyata ditempat duduk depan stasiun sudah duduk seorang wanita cantik dibalut kaos biru dengan tas merah cerah menunggu seorang Jati. Kemudian sembari melepas lelah mereka berbincang mengatur  agenda warung kopi mana yang akan dikunjungi guna mencurahkan beberapa keluh kesah dengan harapan akan tumbuh ide-ide sporadis hasil diskusi kecil kala siang menuju sore itu.
Hingga akhirnya mereka berdua berlabuh pada sebuah warung di depan sebuah kampus yang tak Nampak seperti kampus dan lebih mirip sekolah PAUD yang di isi oleh mayoritas mahasiswa Hedon yang ternyata Jati pernah mengenyam pendidikan di sekumpulan gedung-gedung yang menjulang tak terlalu tinggi itu.
Pada akhirnya mereka memutuskan berangkat pulang menuju rumah masing-masig, namun sebelum Suma pulang kerumah tugasnya mengantar Jati harus Ia tunaikan dulu, dalam perjalanan puang mereka berdua melewati sebuah pasar malam yang memang sudah satu minggu ini di lapangan timur jembatan itu. Dalam benak Jati sebenarnya tersirat keinginan mengajak Suma menikmati komedi putar tradisional yang mengisi tengah lapangan itu; namun sudah dengan berat hati Jati terus melaju melewati tempat itu karna ada agenda lain yang menunggunya.

5. berjalan lah maka akan kau temukan arti dari sebuah perjalanan.                 Setelah beberapa hari Jati dan Suma habiskan ha...