Friday, September 28, 2018


5. berjalan lah maka akan kau temukan
arti dari sebuah perjalanan.

                Setelah beberapa hari Jati dan Suma habiskan hanya menyapa lewat handphone yang membuat rindu mengakar dikarenakan beberapa hari sebelumnya mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing karena memang Suma adalah seorang ketua salah satu organ mahasiswa dan Jati juga sedang mendapat mandat menjadi ketua panitia salah satu kegiatan. Namun sepak terjang suma lebih banyak dalam dunia organisasi jika dibandingkan Jati yang baru anak kemarin sore.
                Seperti apa  yang dikatakan Joko Pinurbo dalam puisinya “Tuhan menciptakan pegal di punggungmu di hari Sabtu, menjadikan linu di hari MInggu, dan menyembuhkannya dihari Rindu”. Berbekal ungkapan itu Jati segera ingin menyembuhkan pegal dan rindunya lewat menikmati alam bersama Suma di Utara kota mereka Karena disana terdapa pantai yang bisa dibilang dapat mengobati kerinduan dan pegal yang beberapa hari sebelumnya mengguncang jiwa mereka.
                Tepat pada 13 September mereka awali pagi dengan saling menyapa lewat Whatsapp dengan gaya candaan khas Jati yang tak banyak orang miliki membuat Suma selalu betah memandangi layar handphone. Dan kebetulan beberapa hari kedepan Suma akan menjalani prosesi wisuda atas gelar Strata 1 yang sudah 4 tahun Ia tempuh namun rindunya masih terus kambuh.
                Pagi sekitar jam 9 Jati menuju arah barat untuk menunaikan hajatnya rapat terkait acara yang terdekat yang akan di eksekusi, namun terus saja Jati dan Suma berkomunikasi lewat handphone untuk bernegosiasi kemana hari ini mereka akan melepas rindu yang sudah semakin menggerutu. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke pantai di Utara kota, namun sebelum keberangkatan Jati menyempatkan pulang kerumah untuk sekedar mandi karena wajahnya sudah menebal akibat dari debu yang menempel seharian.
                Sekitar pukul dua siang mereka bertemu di timur sebuah rumah sakit karena memang motor Suma sengaja di titipkan parkiran rumah sakit untuk mengantisipasi mereka pulang larut malam karena parkiran tersebut 24 jam. Langsung saja seketika itu mereka berangkat melewati gang-gang sempit menuju arah utara karena memang rencananya mereka akan menyebrang bengawan untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan.
                Perlu diketahui bahwa sebenarnya kemarin adalah hari ulang tahun Jati yang tidak Suma ketahui dan memang sengaja tidak di publikasi oleh lelakinya itu karena takut nantinya jika aka ada pesta dadakan yang di adakan Suma untuk lelakinya yang memang Jati tak terlalu suka dengan perayaan karena hanya akan membuat hidup mereka jauh dari dari kata sederhana dan lebih ke kehidupan hedon. Karena pada hari ulang tahun lebih baik baik membagikan makanan kepada mereka yan mebutuhkan atau berdonasi untuk saudara-saudara kita di zona perang dan bukankah itu lebih baik dibandingkan beramai-ramai merayakan sebuah bertambahnya usia.
                Dalam perjalanan berangkat ke pantai mereka memutuskan untuk melewati jalan pegunungan karena memang pemandangan lebih indah dan juga jarak tempuh lebih dekat namun medan yang mereka lewati lebih ekstrim dan membutuhkan skill berkendara di atas rata-rata untuk tetap selamat hingga tempat tujuan.
                Sekitar pukul empat sore mereka sampai di pantai dan memang seperti yang dibayangkan bahwa pantai hari itu nampak jauh dari kata ramai karena hanya ada beberapa pengunjung yang berada dikawasan tersebut, hingga akhirnya mereka berteduh disebuah warung dengan atap pohon menambah kesyahduan sepasang tadi meningkat ditemani minuman dingin sembari menikmati angin lembut pantai yang seakan memijat rambut dan sesekali nampak ombak menjilat lembut bibir pantai.
                Kemudian setelah menghabiskan minum mereka berdua berjalan di tepi pantai, jika dalam film-film pasti sepasang kekasih akan bergandengan tangan saat berjalan menyusuri bibir pantai. Namun tidak dengan mereka karena ini bukan film FTV, Suma berjalan didepan dan disusul Jati satu langkah dibelakangnya sembari menikmati aroma wanitanya itu untuk sekedar menambah syahdu menjemput senja sore itu, hampir tak ada foto kemesraan yang mereka abadikan karena memang Jati sudah memberi pengertian pada Suma bahwa tidak semua hal indah harus di abadikan dalam sebuah gambar karena yang terpenting dari sebuah tempat adalah kalian benar-benar dapat menikmati suasana dan mengenal alam tersebut melalui hati bukan lewat gambar yang terus di eksploitasi. #Bersambung

Wednesday, September 5, 2018


4. Jarak yang kau tempuh dapat menjadi
Awal dari cerita yang tak pernah kau bayangkan.

Pagi setengah siang Jati dan Suma berangkat ke Mojokerto, sebelum terjadi keberangkatan itu sejak pagi mereka sudah menjalin komunikasi untuk sekedar bersapa dan mengatur jadwal keberangkatan mereka sembari bercerita tentang beberapa hari yang mereka lalui dengan sedikit komunikasi dikarenakan Suma sedang menjalani sebuah kegiatan di sebuah pesantren dengan beberapa jadwal kegiatan yang tergolong padat.
27 Agustus, dalam percakapan Suma meminta Jati untuk menemaninya menempuh perjalanan ke sebuah kota untuk bertemu kawan-kawannya di acara mantenan salah satu senior organisasi yang Ia geluti. Dengan gaya khas yang dimiliki Jati, Ia selalu menggoda Suma karena saat itu dirinya tau bahwa Suma ingin sekali Ia menemaninya dalam perjalanan kali itu. Namun memang pada dasarnya jati adalah sosok pemuda yang bertanggung jawab lantas Ia menyanggupi ajakan wanita itu.
Dalam perjalanan berangkat menjemput Suma, Jati terlebih dahulu menepi disebuah pengiriman ekpedisi untuk mengirim surat sembari memberi kabar bahwa Ia telah berangkat dengan harapan Suma juga berangkat ke persimpangan kiri jalan yang sudah mereka sepakati untuk bertemu.
Pukul 11.12 Jati telah sampai ditempat mereka bertemu, namun belum kunjung terlihat juga batang hidung Suma Nampak didepan matanya. Terhitung dua kali kereta api telah lewat ditandai dengan suara klaksonnya yang khas, hingga pada pukul 11.45 barulah gadis bernama Suma itu datang memakai baju hijau dibaut jaket doreng yang melambangkan bahwa Ia wanita yang tangguh berjalan menghampirinya.
Sebelum mereka berangkat, Jati yang sebelumnya juga mampir ke Apotek untuk sekedar membeli masker menawarkan kepada wanita itu untuk menjadi penghambat debu yang menempel diperjalanan yang akan mereka tempuh beberapa jam kedepan demi mencapai destinasi yang belum pernah mereka kunjungi sama sekali.
Mulai jalan lurus hingga berkelok mereka lewati dengan berbagai candaan yang sedikit menghilangkan rasa lelah perjalanan siang itu, dan sekitar pukul 13.23 mereka berdua menepi di sebuah masjid untuk menunaikan sholat sembari meletakkan tubuh setelah kuranglebih 1,5 jam mereka berada diatas motor dengan panas matahari yang menyengat.
Beberapa kali mereka berbincang hingga akhirnya kedua kaum tersebut memutuskan mencari kedai untuk menunggu kawan Suma dari kota yang berbeda datang menghampiri untuk selanjutnya berangkat bersama menuju tempat tujuan mereka sebenarnya.
3. Ketika alam sudah berkonspirasi
Tak ada yang mampu menghalanginya

Malam itu, setelah Jati mengantar pulang seorang perempuan di ujung barat kota. Ia kembali ke kota dan melanjutkan ibadah ngopi bersama kawan-kawan nya dan beberapa senior organ mahasiswa sembari menindak lanjuti acara terkait pengkaderan. Setelah seharian penuh waktu mereka habiskan untuk memutar otak demi menyempurnakan kegiatan tersebut
Tengah malam setelah Jati dan kawan-kawan nya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing hal yang tak disangka menimpa. Setelah melewati bundaran dengan belokan tajam tiba-tiba motor tanguh yang biasa Jati kendarai mengalami ban bocor hingga mengakibatkan perjanjiannya dengan Suma untuk pulang bersama sempat tertunda beberapa saat. Dengan beberapa komunikasi datang dua orang kawan Jati, seorang lelaki dan disusul seorang perempuan yang bernama Suma dan akhirnya setelah diskusi beberapa saat kawan Jati menyarankan untuk menitipkan motor tersebut disebuah warung untuk besok harinya akan di urus kawan tersebut.
Tak lama Jati dan Suma lekas pergi meninggalkan kota untuk menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang yang dingin menambah kesunyian antara mereka hingga akhirnya sampailah di depan rumah Suma yang menjadi saksi perpisahan mereka malam itu. Setelah putar balik Jati langsung bergegas meninggalkan bayangan Suma yang semakin menjauh masuk kerumah dengan lantang suara mesin meraung membawa Jati menelusuri jalan menuju rumahnya masih dengan keadaan dingin yang semakin parah.
Sesaat ketika Jati merebahkan badan diatas kasur yang tak lagi empuk dikamarnya, ponselnya bordering dengan notifikasi pesan masuk dari Suma yang menanyakan apakah lelaki yang mengantar dan membawa motornya pulang itu sudah sampai rumah atau belum. Dengan keadaan mata yang mulai lelah perlahan Jati membalas pesannya dan sekaligus berpamitan untuk mengistirahatkan jiwa raganya.
Dan entah Suma juga ikut tertidur atau tidak, Jati langsung terlelap bersama debu yang masih menempel di jaket lusuhnya yang menjadi teman perjalanan hari itu setelah perjalanan panjang yang Ia alami seharian penuh bersama kawan-kawan rimba.

5. berjalan lah maka akan kau temukan arti dari sebuah perjalanan.                 Setelah beberapa hari Jati dan Suma habiskan ha...