5. berjalan lah maka
akan kau temukan
arti dari sebuah
perjalanan.
Setelah
beberapa hari Jati dan Suma habiskan hanya menyapa lewat handphone yang membuat rindu mengakar dikarenakan beberapa hari
sebelumnya mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing karena memang Suma
adalah seorang ketua salah satu organ mahasiswa dan Jati juga sedang mendapat
mandat menjadi ketua panitia salah satu kegiatan. Namun sepak terjang suma
lebih banyak dalam dunia organisasi jika dibandingkan Jati yang baru anak
kemarin sore.
Seperti
apa yang dikatakan Joko Pinurbo dalam
puisinya “Tuhan menciptakan pegal di punggungmu di hari Sabtu, menjadikan linu
di hari MInggu, dan menyembuhkannya dihari Rindu”. Berbekal ungkapan itu Jati
segera ingin menyembuhkan pegal dan rindunya lewat menikmati alam bersama Suma
di Utara kota mereka Karena disana terdapa pantai yang bisa dibilang dapat
mengobati kerinduan dan pegal yang beberapa hari sebelumnya mengguncang jiwa
mereka.
Tepat
pada 13 September mereka awali pagi dengan saling menyapa lewat Whatsapp dengan gaya candaan khas Jati
yang tak banyak orang miliki membuat Suma selalu betah memandangi layar handphone. Dan kebetulan beberapa hari
kedepan Suma akan menjalani prosesi wisuda atas gelar Strata 1 yang sudah 4
tahun Ia tempuh namun rindunya masih terus kambuh.
Pagi
sekitar jam 9 Jati menuju arah barat untuk menunaikan hajatnya rapat terkait
acara yang terdekat yang akan di eksekusi, namun terus saja Jati dan Suma
berkomunikasi lewat handphone untuk
bernegosiasi kemana hari ini mereka akan melepas rindu yang sudah semakin
menggerutu. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke pantai di Utara
kota, namun sebelum keberangkatan Jati menyempatkan pulang kerumah untuk
sekedar mandi karena wajahnya sudah menebal akibat dari debu yang menempel
seharian.
Sekitar
pukul dua siang mereka bertemu di timur sebuah rumah sakit karena memang motor
Suma sengaja di titipkan parkiran rumah sakit untuk mengantisipasi mereka
pulang larut malam karena parkiran tersebut 24 jam. Langsung saja seketika itu
mereka berangkat melewati gang-gang sempit menuju arah utara karena memang
rencananya mereka akan menyebrang bengawan untuk mempersingkat waktu tempuh
perjalanan.
Perlu
diketahui bahwa sebenarnya kemarin adalah hari ulang tahun Jati yang tidak Suma
ketahui dan memang sengaja tidak di publikasi oleh lelakinya itu karena takut
nantinya jika aka ada pesta dadakan yang di adakan Suma untuk lelakinya yang
memang Jati tak terlalu suka dengan perayaan karena hanya akan membuat hidup
mereka jauh dari dari kata sederhana dan lebih ke kehidupan hedon. Karena pada
hari ulang tahun lebih baik baik membagikan makanan kepada mereka yan
mebutuhkan atau berdonasi untuk saudara-saudara kita di zona perang dan
bukankah itu lebih baik dibandingkan beramai-ramai merayakan sebuah
bertambahnya usia.
Dalam
perjalanan berangkat ke pantai mereka memutuskan untuk melewati jalan
pegunungan karena memang pemandangan lebih indah dan juga jarak tempuh lebih
dekat namun medan yang mereka lewati lebih ekstrim dan membutuhkan skill berkendara di atas rata-rata untuk
tetap selamat hingga tempat tujuan.
Sekitar
pukul empat sore mereka sampai di pantai dan memang seperti yang dibayangkan
bahwa pantai hari itu nampak jauh dari kata ramai karena hanya ada beberapa
pengunjung yang berada dikawasan tersebut, hingga akhirnya mereka berteduh
disebuah warung dengan atap pohon menambah kesyahduan sepasang tadi meningkat
ditemani minuman dingin sembari menikmati angin lembut pantai yang seakan
memijat rambut dan sesekali nampak ombak menjilat lembut bibir pantai.
Kemudian
setelah menghabiskan minum mereka berdua berjalan di tepi pantai, jika dalam
film-film pasti sepasang kekasih akan bergandengan tangan saat berjalan
menyusuri bibir pantai. Namun tidak dengan mereka karena ini bukan film FTV,
Suma berjalan didepan dan disusul Jati satu langkah dibelakangnya sembari
menikmati aroma wanitanya itu untuk sekedar menambah syahdu menjemput senja
sore itu, hampir tak ada foto kemesraan yang mereka abadikan karena memang Jati
sudah memberi pengertian pada Suma bahwa tidak semua hal indah harus di
abadikan dalam sebuah gambar karena yang terpenting dari sebuah tempat adalah
kalian benar-benar dapat menikmati suasana dan mengenal alam tersebut melalui
hati bukan lewat gambar yang terus di eksploitasi. #Bersambung